Merapi kadang kala menimbulkan bencana alam berupa letusan atau banjir lahar dingin yang menyusur alur sungai. Namun merapi juga menyajikan keindahan panorama yang amat indah. Bersanding dengan gunung merbabu di sebelah utara, gunung merapi terlihat begitu kokohnya. Merapi juga mampu menghidupi masyarakat sekitar lereng dengan tanahnya yang subur dan pasir yang melimpah. Hal inilah yang membuat masyarakat tetap bertahan di kawasan siaga saat merapi dinyatakan aktif.
Jika merapi mempunyai kekayaan alam yang melimpah, Indonesia sebagai negara kepulauan juga kaya akan berbagai macam seni tradisional yang dapat dijumpai di tiap sudut daerah dari Sabang sampai Merauke. Namun dengan adanya globalisasi, pengaruh budaya luar terutama budaya barat lebih mendominasi seni di Indonesia khususnya bagi kalangan muda.
Tidak demikian dengan para pemuda lereng merapi, tepatnya masyarakat dusun Tutup Ngisor, desa Sumber, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di jantung dusun kecil itu terdapat padepokan seni yang bernama ‘Tjipta Boedaja’ yang didirikan oleh (alm) Yoso Soedarmo yang akrab disapa Romo Yoso sejak tahun 1937. Padepokan ini dibangun dengan maksud sebagai ajang silaturahmi bagi siapa saja yang berkeinginan untuk berkesenian. Selain itu juga sebagai upaya untuk menambah wawasan masyarakat terhadap perkembangan dunia luar karena keberadaan dusunnya yang saat itu terisolir dari dunia luar sehingga membutuhkan daya tarik tertentu supaya masyarakat luar mau datang.
Salah satu pusat ‘magma’ budaya merapi ini beranggotakan masyarakat setempat, sehingga kebudayaan yang mereka pelajari dapat turun-temurun diwarikan kepada generasi berikutnya. Kesenian bagi mereka merupakan sebuah konsep ritual yang tidak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat Tutup Ngisor. Dengan kata lain, seni adalah jiwa dan hidup mereka, mereka berkesenian karena memang haus berkesenian, bukan karena honorarium, popularitas atau berbagai aspek lainnya.
Saat ini padepokan Tjipta Boedaja dipimpin oleh Sitar Anjilin (51 tahun), anak bungsu dari Romo Yoso. Kesenian utama yang ditekuni padepokan ini adalah wayang orang. Dari padepokan ini lahir pula Wayang Menak, sebuah sajian wayang yang diperankan manusia namun gerak tubuhnya seperti wayang golek, yakni terpatah-patah. Lakon yang diperankan dalam wayang Menak berisi tentang penyebaran agama Islam. Selain itu mereka juga memainkan kesenian Ketoprak, Jathilan dan luwes ketika memainkan berbagai kesenian tradisional yang lain. Tidak sedikit pula remaja dan masyarakat Tutup Ngisor yang menjadi guru seni terutama seni tari di sekolah-sekolah negri maupun swasta. Dengan semangat untuk melestarikan dan mengenalkan budaya Jawa kepada masyarakat sekitar terutama para remaja atau anak-anak, mereka tidak terpengaruh dengan adanya globalisasi yang dapat mengganggu kelangsungan hidup budaya dan kesenian tradisional. Justru mereka menjadikan globalisasi sebagai jembatan untuk mengenalkan seni budaya khususnya budaya Jawa ke kancah dunia internasional.
Setiap Idul Fitri, Maulid Nabi, hari kemerdekaan 17 Agustus, padepokan ini wajib mengadakan pentas. Selain itu, setahun sekali, yaitu setiap pertengahan bulan Sura ada kegiatan untuk memperingati ulang tahun padepokan. Bukan dalam bentuk pesta dengan biaya mahal, melainkan kegiatan ritual seni budaya yang intens, serius dan sarat akan penghayatan sehingga butuh waktu tiga sampai empat hari, tradisi ini biasanya disebut “Festival Kesenian Tahunan”. Pentas wajib padepokan itu dimengerti sebagai pendidikan dasar seni yang terus-menerus dilakukan dari generasi ke generasi. Ada kegiatan Uyon-Uyon Gamelan Candi, ketika warga menabuh gamelan Jawa, lengkap dengan sinden dan kostum niyaga. Dimainkan juga gending ciptaan Romo Yoso. Ada tarian Kembar Mayang yang juga ciptaan dan kegemaran Romo Yoso. Yang sarat pesan adalah pentas Wayang Sakral yang sebenarnya merupakan do’a padepokan Tjipta Boedaja.
Kesenian yang wajib dipentaskan itu adalah kesenian dasar. Tampa menguasai yang dasar mustahil membuat kreasi baru yang bermutu, punya greget dan menampung ekspresi kedalaman berkesenian. Dengan cara itulah Tjipta Boedaja melakukan pendidikan seni Merapi.
Selain itu, berbagai kesenian lapangan dari desa lain yang didampingi oleh Tjipta Boedaja seperti Jathilan (Paten, Gardu, Kapuhan), Campur Prajuritan (Sumber, Diwak), dan Reog (Gejiwan) turut memeriahkan ritual Suran. Beberapa tahun terakhir, komunitas kesenian dari Surabaya, Solo, Yogyakarta, Magelang dan Jepara pun selalu ikut serta.
Dalam berbagai pentas yang diadakan padepokan Tjipta Boedaja banyak berdatangan pula para pecinta seni Jawa dan juga para pelancong mancanegara yang tertarik dengan kesenian Jawa.
Keterbukaan dan keramahan masyarakat dusun Tutup Ngisor serta kecintaan mereka terhadap seni dapat menjadi daya tarik yang luar biasa terutama dalam bidang pariwisata. Dusun Tutup Ngisor ini dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang berbasis budaya atau menjadikan budaya Jawa sebagi daya tarik utama para wisatawan. Para wisatawan yang datang dapat belajar seni tradisional serta menyaksikan secara langsung pagelaran seni yang ada.
Keberlangsungan hidup padepokan Tjipta Boedaja bergantung pada masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya agar generasi berikutnya tidak habis padepokan ini mencoba menanamkan jiwa seni kepada anak-anaknya sehingga dapat mencintai seni dan menganggapnya sebagai bagian dari hidup yang harus selalu dijaga. Dengan adanya kecintaan seni, maka regenerasi dalam nerkesenian tidak akan terputus, tidak terpengaruh dengan gemerlapnya kehidupan kota dengan tidak menutup diri dari dunia luar. Hal yang demikian berpuluh-puluh tahun dipertahankan. Tidak seperti masyarakat lain pada umumnya yang berurbanisasi mengadu nasib di kota-kota besar setelah menyelesaikan pendidikannya, para pemuda dusun Tutup Ngisor lebih memilih untuk hidup apa adanya bersama seni dan alam pedesaan lereng Merapi.